BeritaDenpasarKeagamaan

Wawali Arya Wibawa Hadiri Pangukuhan Prajuru Desa Adat Pedungan

DENPASAR, jarrakposbali.com – Pada Selasa 17 Maret 2026. Suasana Bale Agung Pura Desa Adat Pedungan pagi itu terasa lebih hening dari biasanya. Warga datang dengan pakaian adat, duduk berjejer, mengikuti setiap tahapan upacara dengan penuh perhatian.

Kehadiran I Kadek Agus Arya Wibawa dalam upacara tersebut memberi warna tersendiri. Ia mengikuti jalannya prosesi dari awal hingga akhir, menyaksikan langsung pengukuhan Bendesa Adat Pedungan yang baru untuk masa bakti lima tahun ke depan. Upacara dipuput oleh Ida Pedanda Gede Watulumbang Sibang, menghadirkan nuansa religius yang terasa kuat di setiap tahapannya.

Sejumlah tokoh juga tampak hadir, mulai dari unsur legislatif hingga pemangku kepentingan adat. Kehadiran mereka mencerminkan bahwa desa adat masih menjadi simpul penting dalam kehidupan masyarakat Bali, terutama dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman.

β€œPeran Bendesa Adat sangat penting dalam menjaga harmoni dan nilai budaya Bali. Sinergi harus terus diperkuat,” ujar I Kadek Agus Arya Wibawa.

Dalam kesempatan itu, juga dibacakan Surat Keputusan dari Majelis Desa Adat Provinsi Bali yang menetapkan I Ketut Dantara sebagai Bendesa Adat Pedungan. Proses pemilihan yang dilakukan melalui paruman desa menunjukkan bagaimana tradisi musyawarah masih menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan di tingkat adat.

Momentum tersebut juga menjadi ruang penghormatan bagi pengabdian sebelumnya. Piagam penghargaan diserahkan kepada I Gusti Putu Budiarta sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan selama masa tugasnya.

β€œDengan pengukuhan ini, diharapkan prajuru yang baru dapat menjalankan tugas dengan baik berlandaskan nilai Tri Hita Karana,” ujar I Made Alit Wisnu Putra.

Sering kali, pergantian kepemimpinan di desa adat tidak hanya dimaknai sebagai perubahan struktur, tetapi juga sebagai kelanjutan nilai yang dijaga bersama. Pada akhirnya, yang tetap menjadi inti adalah bagaimana harmoni antara manusia, alam, dan budaya terus dirawat dalam keseharian. Di ruang-ruang seperti Bale Agung inilah, arah kebersamaan itu kembali ditegaskan, pelan namun pasti.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button