
GIANYAR, jarrakposbali.com – Balai Budaya Gianyar terasa berbeda. Pada Selasa 7 April 2026, masyarakat sudah mulai berdatangan, mengambil posisi terbaik, seolah tahu bahwa malam itu bukan sekadar pertunjukan. Ada sesuatu yang hidup, bergerak, dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui Parade Bapang Barong.
Tujuh duta dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar tampil dalam satu panggung terbuka, membawa identitas dan rasa yang berbeda. Setiap penampilan seperti bercerita, bukan hanya lewat gerak tari, tetapi juga melalui iringan gamelan dan ekspresi para penarinya.
Yang menarik, setiap kelompok tidak sekadar menampilkan bentuk, tetapi juga menyisipkan tafsir mereka sendiri tentang kehidupan masyarakat Bali. Ada yang terasa sakral, ada yang lebih dinamis, namun semuanya tetap berpijak pada akar tradisi.
โKami ingin menghadirkan ruang di mana seni tidak hanya ditampilkan, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari kehidupan masyarakat,โ ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa.
Penampilan demi penampilan mengalir tanpa terasa. Dimulai dari Sanggar Dwi Bhuana Sari dari Ubud, kemudian berlanjut hingga penampilan penutup dari Sekaa Truna Aristha Bhuana Banjar Kendran, Tegalalang. Setiap kelompok membawa energi yang berbeda, namun tetap terhubung dalam satu benang yang sama.
Di banyak kasus, panggung seperti ini menjadi titik awal bagi seniman muda untuk menemukan arah. Mereka belajar tampil, berproses, dan mengenali kekuatan tradisi yang mereka miliki.
โParade ini juga menjadi bagian dari proses regenerasi. Banyak anak muda yang mulai terlibat dan menemukan ruangnya di sini,โ lanjutnya.
Keterlibatan sanggar seni, komunitas, hingga sekaa teruna terasa semakin kuat. Kadang, yang terlihat di atas panggung hanyalah hasil akhir, sementara di baliknya ada proses panjang yang melibatkan latihan, diskusi, dan eksplorasi ide.
Sinergi antara pemerintah daerah dan Majelis Kebudayaan Bali juga memberi ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni untuk terus berkembang tanpa kehilangan arah.
Pada akhirnya, Parade Bapang Barong bukan hanya tentang siapa yang tampil paling menarik. Ada hal yang lebih tenang namun terasa kuat, yaitu kesadaran bersama untuk menjaga sesuatu yang sudah ada sejak lama. Di tengah perubahan yang terus berjalan, panggung seperti ini sering kali menjadi pengingat bahwa tradisi tetap punya tempat untuk hidup dan bertumbuh.(JpBali).



