BBTF 2026, Panggung Indonesia Merebut Pasar Wisata Dunia
Ratusan buyer dari 44 negara datang ke Bali membawa agenda bisnis, sementara Indonesia memperkenalkan wisata berbasis budaya, gastronomi, dan keberlanjutan yang kini semakin dilirik pasar global.

JAKARTA, jarrakposbali.com – Menjelang akhir Mei, denyut pariwisata Indonesia kembali bergerak menuju Bali. Di kawasan Nusa Dua, ruang ruang pertemuan mulai disiapkan. Jadwal business matching disusun rapat. Nama nama buyer internasional berdatangan dari berbagai negara. Di saat banyak destinasi dunia sedang mencari cara baru membaca arah industri perjalanan global, Indonesia kembali membuka panggungnya lewat Bali & Beyond Travel Fair 2026.

Tahun ini, atmosfernya terasa berbeda. Tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage” memberi sinyal bahwa pariwisata Indonesia sedang bergerak menuju cerita yang lebih dalam. Bukan hanya menjual destinasi, tetapi juga rasa, budaya, identitas, dan keberlanjutan yang hidup bersama masyarakat lokal.
Selama tiga hari, 28 sampai 30 Mei 2026, Bali International Convention Centre akan menjadi titik temu ratusan pelaku industri wisata dunia. Sebanyak 286 exhibitor hadir dari empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, China, dan Namibia. Indonesia sendiri membawa kekuatan dari 13 provinsi dengan karakter destinasi yang semakin beragam.
Di saat yang sama, 317 full buyer dan 100 trade buyer dari 44 negara datang dengan agenda yang jauh lebih serius dari sekadar kunjungan pameran. Banyak dari mereka membawa target pasar baru, pembukaan jalur perjalanan, hingga penjajakan kerja sama lintas negara yang disiapkan jauh sebelum acara dimulai.
“Di dalam BBTF, yang terjadi bukan hanya promosi destinasi. Ada negosiasi panjang, pertukaran data pasar, sampai kerja sama bisnis yang efeknya bisa berjalan bertahun tahun,” ujar Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra.

Menjelang pelaksanaan, dukungan pemerintah pusat mulai terlihat semakin kuat. Audiensi dilakukan bersama Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden, Rabu 13 Mei 2026. Kehadiran Wakil Presiden pada welcome dinner dan opening ceremony pun mulai menguat.
Koordinasi juga dilakukan bersama Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa sebagai bagian dari laporan kesiapan pelaksanaan forum internasional tersebut.
“Kehadiran pemerintah pusat memberi pesan bahwa Indonesia serius membangun industri pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan,” kata Winastra.

Yang menarik, sebagian besar pertemuan bisnis di BBTF sudah dijadwalkan sejak awal melalui sistem pre scheduled appointment. Di banyak kasus, buyer dan seller datang ke meja pertemuan bukan untuk saling mengenal dari nol, tetapi langsung masuk ke pembahasan peluang kerja sama.
Percakapan yang terjadi kadang terlihat sederhana. Tentang tren wisata pasca pandemi. Tentang wisatawan yang mulai mencari pengalaman autentik. Tentang wellness tourism, wisata keluarga, luxury experience, hingga perjalanan berbasis budaya lokal. Namun dari ruang ruang kecil itu, sering kali lahir keputusan bisnis yang bergerak panjang.
“Banyak keputusan penting justru lahir dari sesi singkat yang sangat terukur seperti itu,” tambah Winastra.
Di satu sisi ruangan, operator wisata dari Indonesia timur memperkenalkan perjalanan berbasis komunitas dan budaya lokal. Di sisi lain, pelaku hospitality membahas perubahan perilaku wisatawan global yang kini semakin peduli pada keberlanjutan lingkungan dan kualitas pengalaman.
Semangat “Beyond Bali” juga terasa semakin kuat. Bali tetap menjadi magnet utama. Namun melalui forum ini, Indonesia perlahan memperlihatkan wajah yang lebih luas. Ada geopark yang mulai dilirik pasar internasional. Ada wisata spiritual yang tumbuh konsisten. Ada jalur bahari, desa wisata, budaya adat, hingga kawasan super prioritas yang mulai menemukan ruangnya di pasar global.

“Dunia mulai melihat Indonesia bukan hanya tentang pantai dan resort. Banyak daerah punya cerita kuat yang sekarang mulai mendapat perhatian internasional,” ujar Winastra.
Dalam banyak forum pariwisata, hasil sering kali tidak langsung terlihat di permukaan. Namun efeknya bergerak perlahan. UMKM lokal mendapat akses pasar internasional. Pelaku wisata daerah punya kesempatan duduk sejajar dengan buyer global. Destinasi yang sebelumnya jarang terdengar mulai masuk dalam percakapan industri perjalanan dunia.
Di tengah perubahan arah industri wisata global, isu keberlanjutan juga semakin menjadi perhatian utama. Banyak pelaku industri mulai memahami bahwa masa depan pariwisata bukan hanya tentang angka kunjungan, tetapi juga tentang bagaimana budaya, lingkungan, dan masyarakat lokal tetap hidup berdampingan dengan pertumbuhan industri itu sendiri.
“Ada tanggung jawab yang harus dijaga bersama. Pariwisata yang baik harus memberi manfaat bagi masyarakat lokal, bukan hanya ramai di angka kunjungan,” beber Winastra.
Pada akhirnya, Bali & Beyond Travel Fair 2026 bukan sekadar agenda tahunan industri perjalanan. Forum ini perlahan tumbuh menjadi ruang tempat Indonesia memperkenalkan dirinya kepada dunia dengan cara yang lebih matang.

Bukan hanya lewat panorama alam yang indah, tetapi lewat rasa yang diwariskan dari dapur tradisional, budaya yang tetap hidup di tengah modernitas, dan jejaring kepercayaan yang dibangun dari satu percakapan ke percakapan lain.
Sering kali, arah besar industri memang tidak lahir dari panggung yang riuh. Ia justru tumbuh dari meja meja kecil tempat orang duduk, berbicara, lalu mulai percaya untuk berjalan bersama dalam waktu yang panjang.(JpBali).



