
DENPASAR, jarrakposbali.com – Di balik denting alat seduh dan uap panas yang perlahan naik dari cangkir, satu per satu barista muda Bali tampil membawa karakter dan cerita mereka sendiri. Ada yang meracik dengan sentuhan tradisional, ada pula yang memainkan teknik modern dengan tenang dan presisi.
Lomba Barista Kopi Bali yang diselenggarakan pada Rabu 20 Mei 2026 bukan sekadar adu rasa. Di banyak momen, panggung ini terasa seperti ruang pertemuan kreativitas anak muda Bali yang tumbuh bersama budaya kopi lokal.
Dari Denpasar, Karangasem, Klungkung hingga Buleleng, para peserta datang membawa semangat yang sama. Mereka ingin menunjukkan bahwa kopi Bali punya identitas yang terus hidup dan berkembang di tangan generasi baru.
Yang menarik, suasana kompetisi justru terasa hangat. Tepuk tangan penonton terdengar hampir di setiap penyajian. Kadang diselingi tawa kecil ketika peserta berbagi cerita tentang biji kopi pilihan mereka.
Pada akhirnya, ajang ini menjadi bagian dari denyut Bulan Bung Karno 2026 yang tidak hanya bicara tentang sejarah, tetapi juga tentang keberanian generasi muda menciptakan karya dari tanahnya sendiri.
Kopi Bali selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki kualitas dan karakter khas. Seiring pesatnya perkembangan industri coffee shop di Bali, kebutuhan akan regenerasi barista menjadi sangat penting.
Barista tidak hanya berperan sebagai peracik kopi, tetapi juga garda depan yang menentukan kualitas sajian sekaligus wajah kopi Bali di mata penikmat kopi.
Melalui kompetisi ini, diharapkan kualitas dan daya saing barista Bali semakin meningkat, sekaligus memperluas promosi kopi lokal Bali ke pasar yang lebih luas.
Ajang ini juga menjadi ruang kreativitas dan inovasi positif bagi generasi muda untuk mengekspresikan kemampuan mereka dalam dunia kopi.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah barista yang berpartisipasi di masing-masing daerah. Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng masing-masing mengirimkan 8 barista muda, sementara Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem masing-masing diwakili oleh 6 peserta.
Dalam kompetisi ini, peserta dinilai melalui dua kategori utama, yakni Hot Coffee Latte dan Signature Coffee, yang menuntut kemampuan teknik, konsistensi rasa, serta kreativitas presentasi minuman kopi.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini diharapkan memberikan dampak luas bagi pariwisata, pelaku UMKM kopi, hingga para petani kopi di Bali. Sinergi antara hulu hingga hilir industri kopi menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan kopi Bali di masa depan.
Hasil seleksi di masing-masing daerah menghadirkan para juara terbaik. Dari Kabupaten Karangasem, barista perempuan (srikandi) tampil berjaya dengan Ni Komang Ayu Sekarsari meraih Juara I, disusul Ni Komang Tria Monika Sari sebagai Juara II, dan Ni Komang Suriani sebagai Juara III.
Dari Kabupaten Buleleng, Juara I diraih Komang Danda Pranata Saputra, Juara II Ngurah Putu Arman Yuliana, dan Juara III Putu Dika Riski Wardana.
Sementara itu dari Kabupaten Klungkung, Juara I diraih Pasek Kadek Ari Wijaya, Juara II I Nyoman Agus Raditya Putra, dan Juara III I Putu Yoga Adi Pratama.
Dari Kota Denpasar, persaingan tak kalah ketat dengan Komang Wahyu Saputra meraih Juara I, diikuti srikandi muda Putu Ditta Anastasya Narda Putri sebagai Juara II, serta Rayhan Raditya Ainurrofiq sebagai Juara III.
Kompetisi ini menjadi bukti bahwa talenta barista Bali terus tumbuh dan siap melangkah ke panggung yang lebih besar. Semangat kreativitas, inovasi, dan kecintaan terhadap kopi lokal diharapkan terus menyala, menguatkan Bali sebagai salah satu destinasi kopi unggulan di Indonesia.(JpBali).



