BeritaTabanan
Trending

Bali Tourism Run 2026, Ketika Alam dan Pariwisata Berjalan Bersama

TABANAN, jarrakposbali.com – Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah Jatiluwih Rice Terraces ketika gagasan tentang Bali Tourism Run yang akan digelar pada Minggu 21 Juni 2026 mulai dibicarakan di Ruang Kerja Bupati Tabanan.

Bukan sekadar tentang lomba lari. Bukan pula hanya soal mendatangkan ribuan wisatawan. Yang sedang dipersiapkan adalah sebuah cara baru memperkenalkan Bali. Lebih dekat dengan alam, lebih menghargai budaya, dan lebih sadar bahwa pariwisata yang bertahan lama sering lahir dari identitas yang tetap dijaga.

Di tengah momentum menuju satu abad pariwisata Bali, ASITA DPD Bali datang membawa satu gagasan sederhana. Perjalanan besar itu dimulai dari Jatiluwih.

Dari jalur sawah yang sunyi, dari udara pegunungan yang dingin, dan dari desa yang masih menyimpan denyut asli Pulau Dewata.

Di Ruang Kerja Bupati Tabanan, suasana audiensi antara ASITA DPD Bali dan Bupati I Komang Gede Sanjaya pada Rabu, 20 Mei 2026, terasa lebih seperti percakapan tentang masa depan Bali.

Ada pembahasan soal sport tourism, ada pula kegelisahan tentang bagaimana menjaga identitas Pulau Dewata di tengah pariwisata yang terus bergerak cepat.

Bali Tourism Run 2026 dirancang bukan sekadar lomba lari. Event ini menjadi penanda dimulainya perjalanan baru promosi pariwisata Bali yang lebih dekat dengan alam, budaya, dan pengalaman otentik.

Jatiluwih dipilih bukan tanpa alasan. Lanskap sawah warisan budaya dunia UNESCO itu dianggap mewakili wajah Bali yang tenang, hijau, dan tetap hidup bersama tradisi.

“Jatiluwih bukan hanya lokasi lomba, tetapi simbol perjalanan baru pariwisata Bali yang ingin kembali dekat dengan alam dan budaya,” ujar Sekretaris ASITA DPD Bali, I Nyoman Suberata.

Di banyak kasus, event olahraga sering hanya berhenti pada keramaian sesaat. Namun Bali Tourism Run mencoba bergerak lebih jauh.

Konsep “The Journey Begins from Jatiluwih” membawa pesan bahwa perjalanan wisata tidak lagi hanya tentang datang dan berfoto, tetapi tentang menikmati pengalaman yang terasa utuh.

Rute lari yang membelah jalur persawahan, udara pegunungan, dan suasana desa yang masih terjaga menjadi bagian dari cerita yang ingin dibangun.

“Pada akhirnya, event ini dirancang menjadi agenda tahunan yang akan bergilir di berbagai destinasi wisata Bali,” kata Nyoman Suberata.

Yang menarik, perhatian pemerintah daerah tidak hanya tertuju pada jumlah wisatawan. Dalam audiensi tersebut, Bupati Sanjaya lebih banyak berbicara soal keseimbangan.

Tentang bagaimana Bali tetap terbuka untuk dunia, tetapi tidak kehilangan dirinya sendiri.

Ia menilai pelaku usaha perjalanan wisata resmi selama ini memiliki kontribusi besar menjaga kualitas pariwisata Bali. Karena itu, menurutnya, keberadaan travel agent ilegal tidak bisa dianggap persoalan kecil.

“Pembiaran terhadap praktik ilegal sering kali menciptakan kebiasaan baru yang perlahan dianggap wajar,” ujar I Komang Gede Sanjaya.

Bali Tourism Run 2026 sendiri akan menghadirkan kategori 5K dengan konsep fun run and race. Event ini terbuka bagi pelari profesional maupun masyarakat umum.

Panitia menargetkan sedikitnya 2.000 peserta ikut ambil bagian. Angka itu diperkirakan terus bertambah seiring dukungan pemerintah daerah dan industri pariwisata Bali.

“Ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi promosi pariwisata berkelas internasional yang berkelanjutan,” ungkap Ketua Panitia I Wayan Suberata.

Selain mengangkat lanskap Jatiluwih, penyelenggara juga mulai menyesuaikan diri dengan arah kebijakan pariwisata Bali yang lebih berkelanjutan. Pengurangan sampah plastik dan pelibatan UMKM lokal menjadi bagian penting dalam konsep acara.

Sering kali, detail-detail seperti ini justru menentukan apakah sebuah event hanya ramai sesaat atau benar-benar meninggalkan dampak bagi masyarakat sekitar.

“Acara ini juga dirancang mendukung pengurangan sampah plastik serta optimalisasi pelibatan UMKM lokal,” jelas I Wayan Suberata.

Menjelang Juni 2026, Jatiluwih tampaknya tidak hanya sedang bersiap menyambut ribuan pelari. Kawasan itu seperti sedang membuka halaman baru tentang bagaimana Bali ingin dilihat dunia.

Bukan semata karena keindahan alamnya, tetapi karena kemampuannya menjaga hubungan antara pariwisata, budaya, dan kehidupan masyarakat yang tetap berjalan selaras.

Pada akhirnya, langkah-langkah kecil di jalur sawah Jatiluwih nanti mungkin akan membawa pesan sederhana. Bahwa pariwisata Bali yang kuat sering kali lahir dari hal-hal yang tetap dijaga dengan hati.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button