Bupati Gianyar Serahkan Bantuan, Warga Diajak Lebih Peduli Lingkungan
318 paket sembako disalurkan, bedah rumah Rp60 juta, dan ajakan taat tata ruang usai banjir melanda lima desa.

jarrakposbali.com, GIANYAR – Hujan deras yang memicu banjir di Gianyar menyisakan lumpur di halaman rumah, retakan di jembatan kecil, dan kecemasan yang belum reda. Di tengah pemulihan, Bupati I Made Mahayastra datang menemui warga, menyerahkan bantuan, dan mengajak semua pihak kembali merapikan hubungan dengan alam, dimulai dari sungai dan jalur hijau yang kerap terlupakan.
Bantuan berupa 318 paket sembako disiapkan untuk didistribusikan lewat para kepala desa. Di Batubulan, Bupati singgah ke rumah Dewa Nyoman Sidan yang terdampak musibah. Di Temesi, ia menyerahkan bantuan bedah rumah senilai Rp60 juta kepada Nyoman Pariana. Satu per satu kebutuhan mendesak dicatat, dari atap bocor hingga akses jalan yang terganggu.
“Bencana banjir menimpa lima desa, yakni Batubulan Kangin, Batuan, Celuk, Ketewel, dan Batubulan. Kita sudah melakukan pendataan sesuai tugas dan tanggung jawab oleh Pemerintah Pusat. Di Gianyar sendiri tercatat ada 428 titik terjadinya bencana,” ujar Bupati Mahayastra, Sabtu (27/9/2025).
Di posko, ia menegaskan bahwa pemulihan fisik seperti jalan, jembatan, dan rumah akan diupayakan lewat koordinasi lintas pemerintah. Namun ada hal yang tak kalah penting dari perbaikan material, yaitu kebiasaan baru dalam merawat lingkungan.
“Tuhan sudah mengingatkan kita untuk menjaga sungai, menjaga lingkungan, serta mengubah perilaku terkait sampah. Kerusakan fisik seperti jalan, jembatan, hingga rumah-rumah sudah kita data. Mudah-mudahan segera akan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah,” jelasnya.
Ajakan itu berlapis pesan tata ruang. Sempadan sungai yang berubah fungsi menjadi bangunan, jalur hijau yang pelan-pelan menyempit, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi catatan yang ingin dia ubah bersama warga.
“Mari kita jadikan bencana ini sebagai pelajaran berharga. Kita hormati aturan yang ada. Jika sempadan sungai, tetaplah menjadi sempadan sungai. Jika jalur hijau, maka harus kita jaga,” tegasnya.
Dalam perjalanan singkat dari satu titik ke titik lain, terlihat gotong royong warga membersihkan sisa lumpur. Para relawan menyalurkan logistik, petugas mendata kerusakan, dan aparat desa mengatur distribusi bantuan agar tepat sasaran.
“Karena pemerintah dan masyarakat harus sama-sama punya tanggung jawab dalam menjaga lingkungan,” ujar Bupati Mahayastra.
Ia menutup kunjungan dengan menyampaikan terima kasih kepada warga, relawan, dan semua pihak yang sigap bergerak. Bagi Mahayastra, solidaritas ini adalah modal utama melewati masa pemulihan dan membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.
“Terima kasih kepada masyarakat yang sudah bergotong royong, serta semua pihak yang terlibat dalam penanganan cepat dan pemulihan pasca bencana ini,” pungkasnya.
Banjir akan surut, lumpur akan kering, tetapi pesan untuk menjaga sungai dan jalur hijau semestinya tinggal lebih lama di ingatan. Gianyar kini bukan hanya membenahi fisik yang rusak, tetapi juga membangun komitmen bersama agar bencana serupa tidak mudah berulang.(JpBali).



