Berita

Bertemu Sahabat Lama, Ini Pesan CEO Jarrak Media Group kepada Sutrisno

BADUNG, jarrakposbali.com I Pasca kembali ke Bali, CEO Jarrak Media Group I Putu Sudiartana gencar menemui pendukung, tokoh masyarakat dan sahabat-sahabatnya.

 

Selain melepas kerinduan, mantan anggota Komisi III DPR RI dari Partai Demokrat ini juga meminta maaf atas peristiwa hukum yang menjeratnya. Dia juga selalui memberikan motifasi semangat kepada para sahabatnya.

 

Sepeeti saat bertemu dengan sahabat lamanya I Nyoman Sutrisno, mantan anggota DPRD Badung selama 2 Periode dan pernah menjadi calon Wakil Bupati Badung, serta pernah mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI dari Partai Nasdem.

 

“Ya, kemarin saya ketemu sahabat lama. Beliau (Nyoman Sutrisno) kiprahnya sudah banyak dirasakan oleh masyarakat Badung. Beliau selalu memperjuangkan aspirasi masyarakat. Buktinya beliau terpilih dua preode di kursi DPRD Badung,” terang Sudiartana, Senin (21/3/2022).

 

Nyoman Sutrisno menurut Sudiartana, bertekat memajukan Badung dan Bali, sehingga perekonomian masyarakat lebih maju, hingga ke pelosok-pelosok pedesaan. Tentunya itu bisa terujud melalui program-program pro rakyat yang ada di benaknya.

 

“Nyoman Sutrisno akan maju kembali ke pusat pada Pemilu 2024. Kalau saya cukup memperjuangkan aspirasi rakyat Bali melalui media. Saya akan fokus di media dan LSM,” imbuhnya kepada redaksi Jarrakposbali.com

 

Karena sahabatnya itu akan maju di Pemilu Legislatif 2024, Sudiartana yang akrab di panggil Putu Leong berpesan, banyak rambu-rambu yang harus dipahami disaat memperjuangkan aspirasi rayak di parlemen.

 

Putu Leong mencontohkan, makan dan minum saat kegiatan di lapangan serta kegiatan olah raga dibayarin orang lain, menurutnya haruslah melaporkan ke APH (Aparat Peneggak Hukum), itu aturannya.

 

“Apalagi di Bali ada yang datang bawa oleh-oleh makanan .atau yang berupa hasil kebun, kita harus melaporkan. Itu memang salah dalam aturan dan harus 30 hari setelah menerima hadiah wajib melaporkan ke pihak yang berwajib,” tutur Putu Leong.

 

Apalagi memperjuangkan pembangunan infrastruktur hampir semua politis. Kalau tidak berkuasa partainya menurut Sudiartana, akan babak belur. Dari pengajuan proposal tidak ada yang mengakomodir. Kejadian ini banyak dialami masyarakat Bali maupun di daerah lainnya.

 

“Karena itu, saya berpesan kepada Sutrisno agar jangan gegabah kelak jika sudah duduk di parlemen, terutama bantuan dari siapapun. Di dunia politik sangat riskan, kita tidak tahu mana kawan mana lawan. Sebaiknya usaha sendiri, lebih baik kita memberi atau membayarkan dari pada dibayarkan untuk menghindari masalah,” paparnya.

 

Menurut Putu Leong, hukum adat di Bali sangat bersebrangan dengan hukum positif. Kalau di Bali, ada yang bayarin ditolak, maka yang mau bayarin itu bisa tersinggung karena dianggap tidak menghormati pemberian orang.

 

Namun kalau diterima dan kwitansinya dipegang itu akan menjadi bom waktu disaat ada miskomonikasi. Karena di Bali ada mitos yang tradisional baik pendukung maupun patner kerja.

 

Contoh, kalau sering membantu pasukan, kemudian hanya sekali tidak membantu pas di saat tidak punya itu akan menjadi musuh. Atau meminjamkan uang kepada teman atau patner di saat minta, itu biaa jadi musuh.

 

“Itu adalah bagian dari pengalaman pahit saya saat menjadi pejabat negara dan itu saya ceritakan ke Nyoman Sutrisno sahabat saya agar kelak bisa mawas. Karena politik itu kejam, kawan makan kawan. Sama saudarapun bisa berebutan Kursi kalau ada kepentingan politik. Yang ada kepentingan dan kekuasaan,” tutur Putu Leong.

 

Tetapi kalau sudah digeluti, papar Putu, politik bisa jadi bagian kesenian kehidupan atau ditekuni dengan baik dan dijadikan hobi juga akan menjadi hal yang positif.(ded)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button