
DENPASAR, jarrakposbali.com – Nuansa merah dan emas menyala hangat di Hongkong Garden, Sanur, pada Jumat (20/2/206).
Denting musik oriental berpadu dengan tawa dan sapaan penuh keakraban, menandai perayaan Tahun Baru Imlek yang bukan sekadar seremoni, tetapi ruang perjumpaan budaya yang telah berurat akar di Bali selama berabad-abad.
Di tengah suasana itu, Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, hadir membawa pesan tentang harmoni yang tak lekang oleh waktu.
Dalam perayaan yang digelar bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali tersebut, Wagub Giri Prasta membacakan sambutan Gubernur Bali, Wayan Koster.
Ia mengajak seluruh undangan menengok kembali jejak panjang persaudaraan Tionghoa dan Bali yang telah melahirkan akulturasi budaya unik dari arsitektur pura, penggunaan pis bolong dalam upacara, hingga tradisi dan kuliner.
“Akulturasi budaya Tionghoa dan Bali adalah bukti nyata bahwa napas kebersamaan telah tumbuh dan menyatu dalam harmoni,” ujar Giri Prasta.
Harmoni itu, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Keberagaman tidak dilihat sebagai perbedaan, melainkan kekuatan untuk berjalan bersama menuju masa depan.
“Tidak ada mayoritas atau minoritas. Yang ada adalah kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia,” tegasnya.
Ketua INTI Bali, Putu Agung Prianta, memaknai Imlek sebagai momentum merawat persatuan. Ia mengingatkan bahwa hubungan Tionghoa dan Bali telah terjalin sejak masa lampau, bahkan sejak kisah perkawinan raja Bali dengan putri Tiongkok yang menjadi simbol akulturasi budaya.
“Indonesia tidak dibangun oleh satu warna, melainkan oleh keberanian banyak warna untuk berjalan bersama,” ungkapnya.
Semangat kebersamaan itu juga tercermin dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok yang terus berkembang. Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng, menyebut kerja sama kedua negara memasuki babak baru dengan capaian perdagangan dan pariwisata yang kian meningkat, termasuk kunjungan ratusan ribu wisatawan Tiongkok ke Bali.
“Kami berharap kerja sama di berbagai bidang akan melaju seperti kuda yang berlari kencang di Tahun Kuda,” ujarnya.
Prosesi yu sheng menjadi salah satu momen paling simbolik. Sumpit-sumpit terangkat tinggi saat sayuran diaduk bersama, menghadirkan doa tentang rezeki, kemakmuran, dan kebersamaan. Barongsai dan liong yang menari lincah, tarian tradisional, serta alunan musik oriental semakin menghidupkan malam penuh makna itu.
Di bawah cahaya lampion yang bergoyang pelan, perayaan Imlek bersama INTI Bali menjelma lebih dari sekadar pergantian tahun. Ia menjadi penegas bahwa Bali dibangun oleh harmoni yang hidup dalam keberagaman sebuah kebersamaan yang terus melangkah, menatap 100 Tahun Bali Era Baru dengan keyakinan dan harapan.(JpBali).



