ASITA 2nd Year End Gathering 2025. Merayakan Kebersamaan, Merawat Kolaborasi

MANGUPURA, jarrakposbali.com – Menjelang akhir tahun, pariwisata Bali sering menemukan momentumnya sendiri. Aktivitas tetap berjalan, tetapi ritmenya terasa lebih longgar. Ada ruang untuk berhenti sejenak, menata ulang pikiran, dan berbincang tanpa tekanan jadwal. Dalam suasana seperti itulah ASITA 2nd Year End Gathering 2025 berlangsung di kawasan Nusa Dua.
The Laguna, A Luxury Collection Resort and Spa menjadi saksi pertemuan para anggota ASITA pada Senin 22 Desember 2025. Di banyak meja, obrolan dimulai dari hal ringan, lalu bergerak ke isu yang lebih strategis. Suasananya cair, seolah semua sepakat bahwa akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk saling mendengar.
Tema “Let’s Celebrate and Collaborate” terasa hadir tanpa perlu banyak penjelasan. Perayaan dipahami sebagai jeda untuk mengapresiasi proses, sementara kolaborasi dibaca sebagai kebutuhan yang terus dirawat, bukan sekadar jargon tahunan.
“ASITA, melalui 354 anggotanya, berada di titik yang menarik karena langsung bersentuhan dengan arus wisatawan,” ujar I Putu Winastra dalam sambutannya.
Alih alih memulai dengan retorika optimisme, I Putu Winastra memilih berbicara tentang data. Ia mengajak peserta membaca angka secara jujur, lalu menempatkannya sebagai dasar kerja bersama. Menurutnya, data tidak berdiri sendiri. Ia baru berarti ketika diterjemahkan menjadi langkah yang relevan di lapangan.
“Angka akan kehilangan makna jika tidak dibaca dengan jujur dan ditindaklanjuti dengan kerja nyata,” katanya.
Data kontribusi 2024 hingga 2025 menunjukkan sekitar 65 persen wisatawan mancanegara ke Bali ditangani anggota ASITA. Sisanya bergerak di luar ekosistem organisasi, sering kali tanpa tercatat secara kelembagaan. Pada segmen wisatawan domestik, kontribusi ASITA berada di kisaran 35 persen, sementara porsi besar ditangani OTA dan pemesanan langsung.
Angka ini tidak diposisikan sebagai bahan pembanding. Di forum ini, data diperlakukan sebagai peta kerja yang membantu membaca kekuatan sekaligus ruang perbaikan.
“Kontribusi 65 persen wisatawan mancanegara menunjukkan peran anggota ASITA yang cukup signifikan di lapangan,” jelasnya.
Winastra juga menambahkan bahwa banyak peserta sepakat bahwa isu utama bukan lagi sekadar jumlah kunjungan, tetapi relevansi peran di tengah ekosistem yang semakin digital dan berbasis kepercayaan. Transformasi berjalan pelan, tetapi konsisten, dan menuntut kesiapan bersama.
“Tantangan 2026 adalah bagaimana ASITA tetap relevan di ekosistem yang makin digital dan berbasis kepercayaan,” ujarnya.
Diamana, pembahasan peta pasar membuka perspektif yang lebih rinci. Enam pasar utama menunjukkan karakter yang semakin spesifik. India tumbuh cepat melalui direct flight, wedding tourism, dan corporate incentives. China bergerak bertahap dengan dominasi FIT dan small group. Eropa konsisten pada segmen long stay bernilai tinggi. Middle East kuat di family luxury. Australia stabil dengan repeat visitors. ASEAN berperan sebagai penyangga regional dengan arus kunjungan yang relatif merata.
“Setiap pasar punya karakter sendiri, sehingga pendekatan layanan perlu disesuaikan,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak ada nada menggurui. Banyak peserta justru menemukan kejujuran melalui obrolan santai. Di banyak kasus, percakapan seperti inilah yang membuka kesadaran tentang standar layanan, konsistensi, dan pentingnya menjaga relasi jangka panjang.
“Kolaborasi yang dirawat secara konsisten biasanya memberi dampak paling panjang,” ujarnya lagi.
Menjelang pergantian tahun, ASITA 2nd Year End Gathering 2025 meninggalkan kesan yang tenang. Angka, strategi, dan peta pasar tetap penting, tetapi semuanya kembali pada orang orang yang menjalankannya. Dari pertemuan sederhana seperti ini, arah industri sering kali dijaga.
Bukan melalui deklarasi besar, melainkan lewat refleksi bersama dan kesediaan untuk terus berjalan berdampingan. Dalam suasana itu, ASITA menutup 2025 dengan satu bekal yang terasa relevan. Kesadaran bahwa masa depan pariwisata Bali dibangun perlahan, melalui kerja bersama yang konsisten dan saling percaya.(JpBali).



