Jelang Musda ke-15, ASITA Bali Temui Koster, Ada Pesan untuk Pariwisata Bali

DENPASAR, jarrakposbali.com – Menjelang satu abad perjalanan pariwisata Bali, roda organisasi Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali kembali bergerak. Musyawarah Daerah (Musda) ke-15 ASITA Bali yang dijadwalkan berlangsung 16 Oktober 2026 mulai dimatangkan, bukan sekadar sebagai agenda organisasi, tetapi juga sebagai momentum membaca arah baru industri perjalanan wisata Bali.
Keseriusan itu ditandai dengan audiensi jajaran DPD ASITA Bali bersama Gubernur Bali Wayan Koster, Rabu (23/9/2026). Dalam pertemuan tersebut, ASITA Bali menyampaikan persiapan Musda sekaligus mengundang Gubernur Koster untuk hadir dan membuka kegiatan.
Di tengah perubahan cepat industri pariwisata mulai dari pola perjalanan wisatawan, perkembangan teknologi digital, hingga tuntutan terhadap pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan ASITA Bali melihat Musda sebagai ruang penting untuk menyatukan langkah.
Bagi organisasi yang menaungi pelaku usaha perjalanan wisata, forum tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun agenda yang lebih relevan dengan tantangan pariwisata Bali ke depan.
Ketua Panitia Musda ASITA Bali, IG. Ayu Kade Purnamawati, S.E., mengatakan audiensi dilakukan untuk menyampaikan langsung rencana Musda ke-15 kepada Gubernur Bali.
“Hari ini Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., bersama Ketua Panitia Musda ASITA Bali dan jajaran pengurus melakukan audiensi dengan Bapak Gubernur Bali Wayan Koster terkait rencana Musda DPD ASITA Bali ke-15 yang akan dilaksanakan pada 16 Oktober 2026.”
Pertemuan itu tidak berhenti pada penyampaian agenda seremonial. ASITA Bali juga berharap Gubernur Koster dapat memberikan arahan mengenai penguatan organisasi serta program-program yang akan menjadi perhatian ASITA Bali ke depan.
Harapan tersebut menjadi penting karena pelaku usaha perjalanan berada di garis depan dalam mempertemukan wisatawan dengan berbagai produk dan destinasi Bali. Karena itu, arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan industri perlu berjalan dalam satu irama.
“Kami berharap Bapak Gubernur Bali dapat hadir pada puncak kegiatan sekaligus membuka acara. Kami juga berharap mendapatkan arahan terkait Musda ini maupun program-program ASITA Bali ke depan.”
Gayung bersambut. Gubernur Bali Wayan Koster menyambut baik rencana Musda tersebut dan menyatakan kesediaannya untuk hadir, sepanjang tidak terdapat agenda lain yang bersamaan.
Kehadiran pemerintah daerah dalam forum organisasi pelaku perjalanan wisata tersebut juga memperlihatkan pentingnya komunikasi antara regulator dan industri. Sebelumnya, Koster dan ASITA Bali telah terlibat dalam sejumlah agenda pengembangan pariwisata, termasuk penguatan sport tourism dan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF).
Gubernur Bali Wayan Koster juga menyampaikan apresiasi terhadap kiprah ASITA Bali yang selama ini dinilai turut berjalan bersama pemerintah dalam mendorong kemajuan pariwisata Bali.
Bagi ASITA Bali, Musda ke-15 menjadi lebih dari sekadar pergantian atau penguatan kepengurusan. Forum ini menjadi ruang untuk merumuskan bagaimana organisasi travel agent tetap relevan ketika wajah pariwisata Bali terus berubah.
Persoalan kualitas wisatawan, tata kelola usaha, transformasi digital, keberlanjutan, pemerataan manfaat pariwisata hingga penguatan destinasi menjadi tantangan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Di tengah kondisi tersebut, posisi travel agent tidak lagi hanya sebagai penjual paket perjalanan. Pelaku usaha perjalanan dituntut mampu menjadi penghubung antara wisatawan, destinasi, masyarakat lokal, pemerintah dan berbagai sektor industri pariwisata.
Musda ke-15 ASITA Bali akhirnya diharapkan menjadi titik temu antara pengalaman panjang dan tantangan baru. Bukan hanya memilih arah organisasi, tetapi juga memperkuat suara industri perjalanan wisata dalam pembangunan pariwisata Bali.
Dengan agenda yang dijadwalkan pada 16 Oktober 2026, Musda ASITA Bali akan menjadi salah satu momentum penting untuk melihat ke mana organisasi ini melangkah dan bagaimana sinergi antara pemerintah dan industri perjalanan wisata terus dibangun.
Sebab, masa depan pariwisata Bali bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi tentang bagaimana Bali tetap menjadi destinasi yang kuat, berkualitas, berbudaya, dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya.(JpBali).



