BeritaDenpasar
Trending

Bulan Bung Karno di Bali Hadirkan Lomba Kreatif untuk Generasi Muda

DENPASAR, jarrakposbali.com – Bali kali ini terasa sedikit berbeda. Tidak hanya dipenuhi agenda budaya dan pariwisata, tetapi juga ruang kreatif yang menghubungkan semangat sejarah dengan energi generasi muda. Dari aroma kopi Bali yang diseduh para barista muda, denting kreativitas konten digital, hingga layangan raksasa yang akan memenuhi langit Bali, semuanya hadir dalam rangkaian Bulan Bung Karno 2024.

DPD PDI Perjuangan Bali menyiapkan berbagai perlombaan yang menyasar pelajar, mahasiswa, hingga komunitas kreatif. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari upaya mengenalkan visi pembangunan “100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125” kepada generasi milenial dan Gen-Z.

Berbagai lomba disiapkan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian anak muda Bali saat ini. Mulai dari lomba cerdas cermat tingkat SMA/SMK dan perguruan tinggi, karya tulis ilmiah, konten kreatif, hingga kompetisi barista kopi Bali dan mixologi arak Bali.

Yang menarik, panitia juga menghadirkan lomba layangan KBS BIG KITE Festival yang selama ini menjadi bagian kuat dari identitas budaya masyarakat Bali. Hadiah yang disiapkan pun cukup besar, berkisar Rp50 juta hingga Rp75 juta untuk setiap kategori lomba.

Di banyak kasus, pendekatan seperti ini sering kali lebih mudah diterima generasi muda. Mereka tidak hanya mendengar tentang sejarah dan ideologi, tetapi ikut masuk melalui ruang kreativitas yang mereka pahami sehari-hari.

“Tujuan sosialisasi ini adalah agar masyarakat Bali, khususnya generasi milenial mengetahui dan memahami gambaran umum bahwa Bali telah memiliki haluan pembangunan Bali masa depan 100 tahun Bali Era Baru 2025-2125,” kata Wayan Koster saat jumpa pers di Denpasar.

Menurut Koster, pembangunan Bali ke depan tidak hanya berbicara soal ekonomi dan infrastruktur. Ada perhatian besar terhadap keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan Bali yang selama ini menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Bali.

Karena itu, kegiatan Bulan Bung Karno tidak dibuat dalam format seremonial semata. Panitia mencoba menghadirkan ruang partisipasi yang terasa dekat dengan anak muda. Kopi Bali, arak Bali, karya digital, hingga festival layangan dipilih karena tumbuh dari kehidupan masyarakat Bali sendiri.

Kadang pendekatan kebudayaan seperti ini justru lebih bertahan lama. Anak muda datang karena lombanya, tetapi pada akhirnya mereka ikut memahami gagasan besar yang sedang dibangun.

“Nggak ada pilkada, tetap ada Bulan Bung Karno setiap tahun, bulan Juni dalam Pergub Nomor 19 Tahun 2019 itu jelas,” ujar Wayan Koster.

Di tengah dinamika politik menuju Pilkada Bali 2024, Bulan Bung Karno kembali hadir dengan wajah yang lebih dekat dengan generasi muda. Tidak hanya lewat pidato dan seremoni, tetapi melalui kreativitas, budaya, dan ruang ekspresi yang hidup di tengah masyarakat Bali sendiri.

Sering kali sebuah gagasan besar memang tumbuh dari hal-hal yang sederhana. Dari secangkir kopi Bali, racikan arak tradisional, tulisan ilmiah mahasiswa, hingga layangan yang terbang tinggi di langit Bali. Di sanalah semangat Bung Karno perlahan dirawat kembali oleh generasi baru.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button