BeritaKarangasem
Trending

Dari Besakih, Bali Menata 100 Tahun ke Depan

KARANGASEM, jarrakposbali.com – Kabut tipis turun perlahan di lereng Gunung Agung saat suara kidung dan denting genta mengalun dari pelataran Pura Agung Besakih. Gerimis kecil yang membasahi halaman pura justru menghadirkan suasana yang tenang. Pagi itu, Bali seperti sedang berhenti sejenak untuk menandai satu babak baru perjalanan pulau ini.

Di tempat yang selama ratusan tahun menjadi pusat spiritual masyarakat Bali, Pemerintah Provinsi Bali memulai langkah besar yang diarahkan untuk satu abad ke depan. Bukan sekadar program pembangunan tahunan, melainkan sebuah haluan panjang tentang bagaimana Bali dijaga, diwariskan, dan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Gubernur Wayan Koster bersama jajaran pemerintah menggelar persembahyangan bersama sekaligus matur piuning untuk memohon restu atas dimulainya pelaksanaan haluan pembangunan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125.

Persembahyangan tidak hanya dilakukan di Besakih. Pada waktu yang sama, desa adat hingga pemerintah kabupaten dan kota se-Bali juga menggelar doa bersama sebagai simbol keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam perjalanan panjang pembangunan Bali.

“Haluan pembangunan 100 tahun Bali era baru ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian alam Bali dan lain sebagainya,” ujar Koster, Rabu (24/12).

Yang menarik, arah pembangunan yang disiapkan tidak hanya berbicara soal ekonomi dan infrastruktur. Pemerintah Bali mulai menempatkan perlindungan ruang hidup masyarakat sebagai prioritas utama. Salah satunya melalui pengendalian alih fungsi lahan produktif yang dinilai semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.

Bali tampaknya sedang mencoba menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan identitasnya sendiri. Sawah, kawasan hijau, dan ruang hidup masyarakat adat diposisikan sebagai bagian penting dari masa depan pulau ini.

“Alih fungsi lahan sudah mulai kami kendalikan. Instruksinya sudah keluar sambil menunggu perda yang sedang dibahas,” kata Koster.

Pemerintah juga mulai memperketat keberadaan toko modern berjejaring. Kebijakan itu diarahkan untuk memberi ruang lebih besar kepada pelaku UMKM lokal Bali agar tetap tumbuh di tengah persaingan usaha yang semakin padat.

Di banyak wilayah Bali, toko kecil milik warga masih menjadi denyut ekonomi keluarga. Karena itu, kebijakan pembatasan izin baru dipandang sebagai langkah menjaga ekosistem usaha lokal agar tidak kehilangan ruang.

“Hal itu kami lakukan supaya UMKM lokal Bali bisa tumbuh dan berkembang tanpa adanya tekanan dari usaha yang memiliki modal besar,” ucapnya.

Selain ekonomi kerakyatan, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada identitas budaya Bali. Penggunaan produk lokal, Aksara Bali, hingga busana adat terus diperluas dalam kehidupan sehari-hari. Kebijakan itu perlahan membentuk pesan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya.

Sering kali, perubahan besar justru dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus menerus. Dari tulisan di kantor pemerintahan, pakaian adat di hari tertentu, sampai produk lokal yang digunakan masyarakatnya sendiri.

“Program-program ini menjadi bagian dari upaya menjaga adat dan budaya Bali dalam jangka panjang,” ujar Koster.

Di bidang pendidikan dan sumber daya manusia, pemerintah menyiapkan percepatan program satu keluarga satu sarjana. Langkah tersebut dipandang penting karena wajah Bali seratus tahun mendatang pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kualitas manusianya hari ini.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penguatan kesehatan tradisional, pemerataan infrastruktur, pembangunan pelabuhan, hingga fasilitas pendukung kawasan suci seperti gedung parkir di kawasan Pura Batur.

“Program satu keluarga satu sarjana akan diperluas dan dipercepat di awal tahun depan,” kata Koster.

Menjelang akhir persembahyangan, gerimis masih turun pelan di kawasan Pura Agung Besakih. Para pemedek tetap bertahan dalam suasana khusyuk, sementara asap dupa perlahan naik di antara udara dingin kaki Gunung Agung.

Pada akhirnya, pembangunan seratus tahun bukan hanya tentang membangun jalan, pelabuhan, atau gedung baru. Ada upaya yang terasa lebih panjang dari itu. Tentang menjaga Bali tetap memiliki wajahnya sendiri, tetap punya tanah yang subur, budaya yang hidup, dan generasi yang masih merasa memiliki pulau ini.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button