Berita

Koster Hentikan Alih Fungsi Lahan, Bali Jaga Alam Usai Banjir Besar

Moratorium izin komersial ditetapkan, Menteri LHK dukung penuh langkah Gubernur Bali demi kelestarian Pulau Dewata.

jarrakposbali.com, DENPASAR – Banjir besar yang menewaskan 17 orang di Bali menjadi titik balik dalam kebijakan tata ruang Pulau Dewata. Gubernur Bali Wayan Koster merespons cepat dengan mengumumkan moratorium izin alih fungsi lahan produktif untuk kepentingan komersial.

Kebijakan ini diputuskan setelah rapat bersama Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq, Bupati Badung, Wali Kota Denpasar, serta Forkopimda Bali.

“Mulai tahun ini sesuai Haluan 100 Tahun Bali, tidak boleh lagi ada alih fungsi lahan produktif untuk hotel atau restoran. Instruksi sudah saya berikan kepada bupati dan walikota,” tegasnya saat mendampingi Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq saat jumpa pers di Gedung Kerthasabha, Denpasar, Sabtu (14/9/2025).

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq menilai langkah itu sangat tepat. Ia menyoroti kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung yang kritis karena hanya tersisa 3% tutupan hutan dari total luasannya.

“Jika hanya 1.500 hektare yang tersisa dari 49.500 hektare, maka daya tahan DAS jelas sangat rendah. Bali harus dijaga ketat, ini bukan sekadar isu lokal tapi perhatian dunia,” ujarnya.

Menurut data Kementerian LHK, sejak 2015 hingga 2024 Bali telah kehilangan 459 hektare hutan karena konversi lahan. Angka ini kecil dibanding provinsi lain, namun dampaknya di Bali terasa langsung.

“Bali ini tidak boleh sembarangan. Tata ruangnya harus dikaji ulang karena sudah sangat rawan bencana hidrometeorologi,” kata Hanif.

Pemerintah pusat dan daerah kini berfokus pada upaya reforestasi, revegetasi, dan evaluasi tata ruang lewat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

“Sungai adalah sumber kehidupan. Ekosistem Bali harus kita jaga demi generasi mendatang,” ujar Koster.

Selain lingkungan, penanganan sampah pascabanjir juga menjadi prioritas. Sebanyak 210 ton sampah bencana akan ditangani di TPA Suwung, sambil menunggu pembangunan fasilitas waste-to-energy.

“Presiden telah memerintahkan percepatan WTE, meski butuh waktu 1,5 sampai 2 tahun untuk selesai,” ungkap Koster.

Di sisi lain, sektor pariwisata Bali tetap berjalan normal meski bencana baru saja melanda. Koster memastikan kunjungan wisatawan mancanegara tetap stabil di angka 21–22 ribu orang per hari.

“Bali sudah aman, tidak ada pembatalan wisata. Aktivitas masyarakat maupun wisatawan berjalan normal,” tegasnya.

Momentum bencana kali ini, bagi Koster, bukan sekadar ujian, melainkan pengingat kuat agar Bali menata kembali hubungan dengan alamnya. Dengan dukungan pusat dan daerah, ia optimistis Pulau Dewata bisa pulih, sekaligus menjaga warisan alamnya tetap lestari untuk generasi berikutnya.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button