
DENPASAR, jarrakposbali.com | Kesehatan mulut masih menjadi tantangan global yang perlu mendapat perhatian serius.Karies gigi, salah satu penyakit gigi yang paling umum di seluruh dunia dan terus menjadi masalah kesehatan yang signifikan bagi segala usia. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan jaringan gigi yang dimulai dari permukaan dan dapat menyebar ke bagian dalam gigi yang disebut pulpa.

Penyebab utama karies gigi adalah pembentukan biofilm di rongga mulut, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor inang dan lingkungan. Salah satu bakteri utama penyebab karies gigi adalah Streptococcus mutans, yang mampu menghasilkan glukan dan asam dalam jumlah besar, melebihi kapasitas penyangga air liur.
Hal ini menyebabkan bakteri tersebut menempel kuat pada gigi den bertahan hidup di lingkungan asam yang dapat mempercepat perkembangan gigi berlubang.
Upaya dalam mengatasi masalah karies gigi, yakni penggunaan mouthwash (obat kumur)telah menjadi salah satu solusi yang populer. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan efek samping bahan kimia dan krisis resistensi antimikroba, perhatian kini beralih pada penggunaan ekstrak herbal atau bahan alami sebagai alternatif yang lebih aman.
Salah satu inovasi yang sedang diteliti adalah pemanfaatan kombinasi limbah kulit pisang kepok dan daun sirih sebagai bahan aktif dalam mouthwash. Kulit pisang, yang sering menjadi limbah organik terutama di daerah seperti Bali dimana buah pisang banyak digunakan dalam upacara Hindu, ternyata kaya akan senyawa aktif seperti alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid, terpenoid, dan senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antibakteri.
Sementara itu, daun sirih juga diketahui mengandung minyak atsiri, fenil propanoid, tanin, dan flavonoid yang memiliki sifat antibakteri. Kombinasi kedua bahan alami ini diharapkan dapat menjadi solusi efektif dalam mencegah dan mengatasi karies gigi.
Pengujian efektivitas kombinasi ekstrak kulit pisang kepok dan daun sirih dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, sebuah riset inovatif sedang dilakukan menggunakan metode mikrodilusi. Metode ini dipilih karena belum pernah digunakan sebelumnya untuk mengevaluasi efek antibakteri dari kombinasi kedua ekstrak tersebut dalam sediaan mouthwash.
Tujuan utama riset ini adalah untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bakterisidal Minimum (KBM) dari agen antimikroba yang dihasilkan.
KHM adalah konsentrasi terendah dimana agen antimikroba dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang diuji, sementara KBM adalah konsentrasi terendah yang dapat membunuh sebagian besar inokulum bakteri.

Hasil riset ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan produk mouthwash berbahan alami yang efektif dan aman untuk mencegah karies gigi, sekaligus memanfaatkan limbah organik secara optimal. Dengan demikian, riset ini tidak hanya berpotensi memajukan bidang kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga mendukung upaya pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Narasumber: Komang Tria Noviana Dewi.



