
DENPASAR, jarrakposbali.com – Suasana pagi di aula Bapelkesmas Bali pada Selasa 10 Maret 2026 terasa hidup ketika ratusan kader Posyandu dari berbagai daerah di Bali mulai memenuhi ruangan. Mereka datang membawa pengalaman dari desa masing masing, sekaligus harapan untuk memperluas pemahaman tentang peran baru Posyandu di tengah masyarakat.
Kegiatan Bina Posyandu Tahun 2026 yang berlangsung selama tiga hari menjadi ruang belajar bersama. Untuk pertama kalinya kegiatan ini digelar di Bali dan diikuti oleh kader dari seluruh kabupaten dan kota. Dalam forum ini, para kader tidak hanya membahas layanan kesehatan ibu dan anak yang selama ini dikenal luas, tetapi juga memahami peran yang lebih luas dalam pelayanan masyarakat.
Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Putri Koster, membuka kegiatan tersebut dengan menekankan pentingnya pemahaman kader terhadap perubahan peran Posyandu. Ia menjelaskan bahwa Posyandu kini bergerak mengikuti arah kebijakan pelayanan dasar pemerintah yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal.
Menurutnya, perubahan ini membuat Posyandu menjadi ruang pelayanan masyarakat yang lebih luas. Kader diharapkan mampu mengenali berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekitar dan membantu menghubungkannya dengan pihak yang memiliki kewenangan.
βKader Posyandu sekarang tidak hanya fokus pada kesehatan. Ada enam bidang SPM yang perlu dipahami agar kader bisa membantu masyarakat secara lebih menyeluruh,β ujar Putri Koster.
Enam bidang tersebut mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman dan ketertiban umum termasuk perlindungan masyarakat. Dengan memahami bidang tersebut, kader dapat mencatat setiap persoalan yang ditemui dan menyampaikannya kepada pihak terkait agar dapat segera ditindaklanjuti.
Pendekatan ini sering kali membantu mempercepat penanganan berbagai persoalan yang muncul di tingkat desa. Informasi dari kader menjadi jembatan antara masyarakat dengan program pelayanan pemerintah.
βKalau kader menemukan persoalan di luar bidangnya, cukup dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan yang membidangi. Cara ini membantu program pemerintah berjalan lebih efektif,β jelasnya.
Selain penguatan peran, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kemampuan kerja sama. Dalam banyak kasus di lapangan, berbagai persoalan masyarakat saling berkaitan sehingga memerlukan komunikasi lintas bidang.
Putri Koster mengingatkan bahwa kader Posyandu memiliki posisi penting karena mereka berada dekat dengan masyarakat. Kedekatan ini sering kali membuat kader lebih cepat mengetahui kebutuhan warga.
βKita perlu terus belajar dan membangun sinergi. Dengan begitu kader dapat bekerja bersama dalam mendukung kesejahteraan masyarakat,β katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak kader untuk ikut mengawal gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber melalui program Palemahan Kedas. Gerakan ini mendorong kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga.
Kebiasaan kecil ini sering kali memberi dampak nyata pada lingkungan. Sampah yang sudah dipilah membantu proses pengelolaan di tempat pengolahan sehingga lingkungan sekitar menjadi lebih bersih.
βMari mulai dari rumah dengan memilah sampah. Kebiasaan sederhana ini membantu proses pengelolaan sampah berjalan lebih baik,β ujarnya.
Bina Posyandu 2026 menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan pengalaman kader dari berbagai wilayah Bali. Diskusi yang berlangsung selama tiga hari diharapkan memperkuat pemahaman kader tentang peran baru Posyandu dalam pelayanan masyarakat.
Di banyak desa, Posyandu sering menjadi titik awal berbagai program sosial. Dengan pengetahuan yang lebih luas, para kader diharapkan mampu membawa semangat pelayanan yang sama ke lingkungan masing masing, sekaligus menjadi penggerak kecil yang menjaga kesehatan, kesejahteraan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Bali.(JpBali).



