Giri Prasta Turun ke Lumpur, Tanam Mangrove Bersama SMSI Bali

DENPASAR, jarrakposbali.com – Pada Senin 9 Febroari 2026 Pagi di kawasan Arboretum Park Tahura Ngurah Rai, Denpasar, terasa berbeda. Lumpur pesisir yang biasanya sunyi justru ramai oleh langkah para relawan, jurnalis, dan pegiat lingkungan.
Di tengah genangan air dan akar bakau yang menjulur, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta ikut turun langsung menanam mangrove bersama peserta Aksi Tanam 1.000 Mangrove yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Bali.
Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari jadi SMSI sekaligus momentum Hari Pers Nasional 2026. Selain membuka acara, Giri Prasta terlihat berjalan menyusuri area penanaman yang berlumpur sambil mendengarkan penjelasan dari Rossy, relawan Sahabat Mangrove Ranger Indonesia yang selama ini terlibat dalam program revitalisasi kawasan tersebut.
“Kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk melihat kebutuhan di kawasan ini. Salah satunya kemungkinan pembangunan jembatan di area arboretum agar akses edukasi lebih aman, terutama saat pasang surut air laut,” ujar Giri Prasta.
Arboretum Park yang berada di kawasan Jalan Raya Pelabuhan Benoa merupakan lahan milik Pelindo yang sempat mengalami kerusakan ekosistem mangrove sekitar 12 hektar pada 2018. Sejak beberapa tahun terakhir, revitalisasi dilakukan secara bertahap dengan keterlibatan komunitas lingkungan dan masyarakat.
“Tanaman mangrove memiliki banyak manfaat bagi alam. Ia menahan gelombang laut, menjadi habitat biota pesisir, sekaligus menghasilkan oksigen bagi lingkungan sekitar,” kata Giri Prasta.
Di wilayah pesisir Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sendiri tercatat sekitar 1.337 hektar kawasan mangrove yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir Bali. Kawasan ini sering disebut sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi.
“Dalam visi Bali Era Baru yang dicanangkan Gubernur Bali, menjaga alam dan seluruh isinya menjadi tanggung jawab bersama. Jika mangrove kita jaga dengan baik, alam pun akan memberikan keseimbangan bagi kehidupan kita,” jelasnya.
Giri Prasta juga mengapresiasi langkah SMSI Bali yang memilih kegiatan lingkungan sebagai bagian dari perayaan organisasi. Menurutnya, peran media tidak berhenti pada kegiatan simbolik, tetapi berlanjut pada edukasi publik melalui pemberitaan yang konsisten.
“Saya mengapresiasi SMSI Bali yang menjadikan peringatan hari jadinya dengan kegiatan merawat alam. Kepedulian ini akan terasa lebih luas ketika juga disampaikan melalui pemberitaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, kawasan Arboretum Park diharapkan berkembang sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata berbasis konservasi mangrove. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Ke depan boleh saja ada karcis masuk yang dikelola masyarakat. Prinsipnya sederhana, satu mangrove sejuta manfaat. Yang penting ekosistemnya tetap terjaga,” kata Giri Prasta.
Di tengah deretan bibit mangrove yang baru ditanam, harapan tentang masa depan pesisir Bali kembali disemai. Lumpur yang menempel di kaki para peserta seolah menjadi pengingat bahwa menjaga alam sering kali dimulai dari langkah sederhana, menanam satu pohon, merawatnya, lalu membiarkan waktu bekerja menjaga keseimbangan semesta.(JpBali).



