
BADUNG, jarrakposbali.com – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Banjar Pesalakan Tuban, Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Rabu (27/5/2026), saat krama banjar melaksanakan Upacara Pujawali di Pura Penyarikan Banjar Pesalakan Tuban. Di tengah rangkaian upacara yang berlangsung penuh makna itu, hadir Ketua DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Anom Gumanti, memenuhi undangan uleman masyarakat adat setempat.
Kehadirannya terasa lebih dari sekadar agenda seremonial. Pada banyak kesempatan, hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat memang tumbuh melalui ruang-ruang kebersamaan seperti ini. Ada nilai gotong royong, rasa hormat pada leluhur, serta upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Prosesi pujawali yang jatuh pada Rahina Buda Cemeng Warigadian tersebut dirangkaikan dengan upacara Ngeratep Pelawatan Banjar Pesalakan Tuban dan Ratu Ayu Manik Mas. Sejak pagi hari, masyarakat adat tampak memadati area pura dengan busana adat khas Bali. Iringan gamelan dan harum dupa menghadirkan suasana yang tenang sekaligus sakral.
I Gusti Anom Gumanti turut mengikuti persembahyangan bersama pamuspan bersama tokoh adat dan masyarakat. Yang menarik, di sela-sela kegiatan itu terlihat bagaimana kekompakan warga banjar tetap terjaga. Mulai dari persiapan upacara hingga jalannya persembahyangan, semua berjalan melalui semangat ngayah yang masih kuat dipertahankan.
Dalam kehidupan masyarakat Bali, upacara adat sering kali menjadi ruang yang mempertemukan banyak nilai sekaligus. Ada spiritualitas, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap identitas budaya. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, menjadi bagian penting agar tradisi seperti ini tetap lestari.
โPujawali bukan hanya bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga ruang menjaga kebersamaan dan warisan budaya Bali. Saya sangat mengapresiasi semangat gotong royong krama Banjar Pesalakan Tuban yang tetap konsisten menjaga tradisi leluhur,โ ujar I Gusti Anom Gumanti.
Menjelang akhir rangkaian upacara, suasana kebersamaan masih terasa hangat di lingkungan pura. Warga banjar tampak saling berinteraksi sambil melanjutkan berbagai rangkaian yadnya dengan penuh ketulusan.
Di banyak desa adat di Bali, tradisi seperti pujawali memang terus menjadi penanda bahwa akar budaya masih tumbuh kuat di tengah kehidupan masyarakat modern. Kehadiran para pemimpin daerah dalam ruang-ruang adat seperti ini pada akhirnya menjadi simbol bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab masyarakat adat, melainkan gerakan bersama untuk menjaga jati diri Bali tetap hidup dari generasi ke generasi.(JpBali).



