Denpasar Bersiap Hadapi Penutupan TPA Suwung
TPS3R, Teba Modern, hingga PDU Dipercepat untuk Kendalikan Sampah Kota

DENPASAR, jarrakposbali.com – Pagi itu, Denpasar bergerak cepat. Di tengah hitungan hari menuju penutupan TPA Suwung, Pemerintah Kota Denpasar memperlihatkan keseriusan membenahi sistem pengelolaan sampah. Kunjungan kerja Plt. Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup RI menjadi momen penting untuk memastikan kesiapan kota menghadapi perubahan besar ini.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menyampaikan bahwa berbagai langkah sudah dan terus dilakukan. Optimalisasi TPS3R, penguatan Teba Modern, pemanfaatan komposter, bank sampah, hingga pengoperasian Pusat Daur Ulang di sejumlah titik menjadi tumpuan utama.
“Kami berkomitmen dan terus bekerja agar sampah di Kota Denpasar dapat tertangani dengan baik,” ujar Jaya Negara, di Kota Denpasar, Sabtu (13/12).
Saat ini, kapasitas pengolahan dari seluruh inovasi yang ada baru mampu menangani sekitar 280 hingga 300 ton sampah per hari. Angka tersebut masih jauh dari total produksi sampah kota. Karena itu, Pemkot akan memaksimalkan peran PDU Tahura dan Kesiman Kertalangu sebagai penguat sistem.
“Ini yang akan kami gencarkan sambil menunggu PSEL mulai beroperasi,” katanya.
Tak hanya soal infrastruktur, Pemkot juga menyiapkan langkah koordinatif. Dalam waktu dekat, 24 pengelola TPS3R akan dikumpulkan untuk mencari solusi atas kendala operasional, termasuk upaya meningkatkan produksi pengolahan sampah di tingkat kawasan.
“Kita ingin memastikan setiap kendala di lapangan bisa segera diatasi bersama,” ungkapnya.
Di sisi lain, aspek lingkungan tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah tidak ingin solusi jangka pendek justru memindahkan masalah ke sungai atau ruang publik akibat penumpukan sampah rumah tangga.
“Kami tidak ingin dampak lingkungan muncul karena penanganan yang tergesa-gesa,” tegas Jaya Negara.
Plt. Deputi PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup RI, Hanifah Dwi Nirwana, menilai ada itikad baik dari pemerintah daerah. Kunjungan ini dilakukan untuk melihat langsung progres pemenuhan sanksi yang jatuh tempo pada 23 Desember.
“Kami melihat upaya pembenahan sudah berjalan, meski masih perlu percepatan dan kerja yang lebih kolaboratif,” ujarnya.
Hanifah juga menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Peran masyarakat, terutama dalam pengolahan sampah berbasis sumber dan pemilahan berkelanjutan, menjadi kunci keberhasilan.
“Partisipasi masyarakat adalah kunci penting dalam penanganan sampah berkelanjutan,” katanya.
Menjelang penutupan TPA Suwung, Denpasar tidak memilih diam. Dengan kombinasi inovasi, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat, kota ini berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan penanganan sampah dan kelestarian lingkungan. Tantangannya besar, tetapi langkah-langkah nyata sudah mulai terlihat.(JpBali).



