Optimalkan Pariwisata Berkelanjutan, ASITA Bali Tekankan Pentingnya PWA
Pungutan Wisatawan Asing Diharapkan Dapat Memberikan Manfaat Ekonomi dan Lingkungan bagi Masyarakat Lokal

jarrakposbali.com, DENPASAR – Di tengah perkembangan pesat sektor pariwisata, pemanfaatan dana dari pungutan wisatawan asing (PWA) menjadi isu krusial untuk mengoptimalkan dampaknya bagi masyarakat lokal. Dalam acara Tourism Talkshow bertema “Saatnya Kita Berkarya” yang diadakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Denpasar Rabu (4/6/2025).
I Putu Winastra, Koordinator Tim Pemantauan dan Pelaksanaan Pungutan Wisatawan Asing (PWA) sekaligus Ketua DPD ASITA Bali, menegaskan bahwa PWA memiliki peran krusial dalam menciptakan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga berkelanjutan.
“Pungutan ini lebih dari sekadar pendapatan. Ini adalah alat untuk memastikan pariwisata memberi manfaat bagi masyarakat lokal, mendukung UMKM, dan melestarikan lingkungan,” ujarnya.
Winastra, menegaskan bahwa program ini adalah langkah strategis untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh pariwisata massal.
“Pariwisata harus memberikan manfaat yang adil dan berkelanjutan. Pungutan ini bukan hanya soal pendapatan, tapi juga cara untuk mengurangi penggunaan plastik yang merusak lingkungan dan mendukung UMKM lokal yang menjadi motor penggerak ekonomi di setiap destinasi,” terangya.
Lebih lanjut, Winastra juga mengungkapkan bahwa untuk memastikan kelancaran operasional, pihaknya tengah memperdalam mekanisme kerjasama dengan berbagai pihak terkait, seperti Airlines, SITA, Imigrasi, dan PT. Angkasa Pura.
“Kami sedang melakukan penjajakan lebih lanjut untuk membangun kemitraan yang solid guna mendukung implementasi PWA ini,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sebagai bagian dari upaya tersebut, tim ASITA akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan di area kedatangan dan keberangkatan, baik internasional maupun domestik.
“Kami ingin memastikan area yang tepat untuk penempatan kios dan signage PWA di lokasi strategis yang mudah diakses oleh wisatawan,” katanya.
Dimana, Ia juga menyoroti pentingnya memaksimalkan penggunaan teknologi untuk mempermudah proses sosialisasi dan pembayaran terkait PWA.
“Sosialisasi melalui screen TV di area kedatangan internasional adalah cara efektif untuk mengedukasi wisatawan, khususnya saat mereka menunggu bagasi,” terangnya.
Namun, ia menekankan bahwa imbal hasil dari pungutan ini harus diatur secara teknis dan jelas dalam perubahan Perda agar penerapannya lebih terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, Winastra juga mengusulkan penambahan channel pembayaran seperti UnionPay, Alipay, dan WeChatPay, mengingat wisatawan China kini masuk dalam daftar pengunjung terbanyak ke Bali.
“Meski demikian, akses pada sistem LoveBali masih sangat minim, yang menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan pariwisata Bali yang lebih baik, diperlukan komitmen bersama dari seluruh pihak terkait.
“Peran ASITA sebagai katalisator dalam memfasilitasi sinergi antara asosiasi, pelaku usaha, desa wisata dan wisatawan sangat penting,” bebernya.
Dengan visi untuk menciptakan pariwisata Bali yang berbasis budaya, berkelanjutan, dan menyejahterakan, ASITA berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak guna memastikan bahwa sektor pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
“Kami percaya bahwa dengan kerjasama yang solid, Bali dapat menjadi contoh pariwisata yang berkembang dengan prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan bagi semua,” tutupnya.(jpbali).
Editor : Putu Gede Sudiatmika.



