Kemacetan Lalu-Lintas Nodai Kenyamanan Wisatawan Dan Bisa Merusak Citra Bali

Mangupura, jarrakposbali.com | Melejitnya pariwisata tentunya membuat sumbringah masyarakat Bali yang kebanyakan bergelut di sektor ini.
Namun mulai banyaknya kunjungan wisatawan ke Bali tentunya berbanding lurus dengan makin banyaknya pekerja pariwisata kembali terjun menggeluti profesinya.
Hal ini tentu membuat makin padatnya mobilitas orang di jalan raya yang sudah barang tentu membuat padatnya arus lalu- lintas bahkan di banyak titik mengalami kemacetan.
Hal inilah yang terjadi dalam dua minggu terakhir ini yang mulai menuai keluhan dari masyarakat bahkan wisatawan yang menggunakan jasa transportasi.
Berikut beberapa keluhan dari masyarakat dan juga dari wisatawan yang pernah terjebak macet di daerah pariwisata yang sempat diwawamcarai awak media:
Mr.Marco,wisatawam asal Belanda yang sudah beberapa kali ke Bali mengaku sering mengalami kemacetan.”Saya sudah empat kali mengunjungi Bali,saya senang Bali,orangnya ramah.Bali memang bagus,tapi saya sering emosi kalau mau keluar hotel.Sering macet.Ini pandemi kan belum selesai,tapi kenapa sudah macet? Pemerintah di sini harus segera membenahi,”ungkapnya dengan nada kesal
Dari kiriman video seseorang yang enggan ditulis namanya,nampak dia sedang mengemudi dan mengantar tamu bule.Terdengar jelas tamu tersebut ngedumel mengungkapkan kekecewaannya karena jalannya macet.
Sementara Made,seorang sopir transportasi di kawasan Kuta sangat kecewa dengan sistem transportasi publik yang nampak awut- awutan.
“Di negara maju di manapun yang menjadi prioritas utama adalah sistem transportasinya.Sistem transportasi publiknya betul- betul terencana dengan baik.Tidak seperti di sini yang awut- awutan karena kebijaksanaan yang tumpang- tindih.Di samping itu SDM pengguna jalan juga perlu ditingkatkan biar mereka mengerti di mana harus ngotot,di mana saatnya mesti mengalah.Kalau tidak,ini jelas tidak bagus dan berdampak pada citra pariwisata kita,”tegas Made yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang transportasi ini.
Pendapat senada juga disampaikan sopir transport yang lain,yaitu Nengah Wirayasa.
“Kita di Bali sudah mendeklarasikan Bali sebagai destinasi wisata,jadi kita harus menyiapkan jalan- jalan yang memadai,atau setidaknya terjaminnya pengaturan lalu- lintas yang bagus sehingga minimal tamunya tidak komplin.Di sini kan ibaratnya kita jualan,sajikanlah dengan baik.Alamnya indah,fasilitasnya bagus,tamu berlalu- lintas nyaman.Meskipun kita punya jalan seperti itu,ya atur sebisanya dah secara manual.Jangan sampai tidak ada petugas di tempat-tempat yang rawan macet,”pintanya.
Sementara salah seorang karyawan hotel yang tidak mau ditulis namanya mengatakan,kemacetan di wilayah Berawa,Canggu,Kerobokan dan juga Kuta biasanya juga disebabkan oleh ketidak- disiplinan pemakai jalan yang tidak pernah merasa berdosa melanggar lalin,main terobos dan parkir di badan jalan.Untuk itu dia merasa perlu kesiagaan dan ketegasan petugas.Dia juga menegaskan bahwa saat ini destinasi wisata di dunia sangat banyak pilihan dan saling bersaing ketat.Citra Bali bisa tercoreng gara-gara kemacetan ini.
Semoga saja masukan- masukan di atas menjadi atensi dari pihak terkait dan citra Bali tidak tercemar hanya karena faktor lalin yang sembrawut dan Bali segera bangkit. (asa)



