1
Ming. Sep 27th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

ESSAI HUKUM: DONGENG HUKUM DI BULELENG

2 min read

Oleh: FRANCELINO XAVIER XIMENES FREITAS/Wartawan JBM.co.id

KOMANG NS, 16, adalah korban eksploitasi anak dalam politik. Si miskin, si bodoh dan terinjak-injak ibarat pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”.

Hidupnya jatuh dalam kemiskinan, justru menjadi korban tabrak lari (diduga dilakukan orang suruhan politisi tertentu karena pengakuan Komang NS bahwa dia menjadi korban eksploitasi politik, yang viral di medsos), didatangi orang berbadan besar berkali-kali.

Akibatnya Komang NS, si miskin ini, harus menjalani perawatan akibat dilanda ketakutan dan kecemasan. Dokter yang merawatpun harus memberikan pengobatan untuk menghilangkan rasa takut dan cemas si miskin Komang NS.

Yang memilukan ketika laporannya di Polres Buleleng yg dilengkapi alat bukti, saksi-saksi dan hasil rekam medis (Komang NS divonis mengalami gangguan campuran depresi dan cemas), justru si pelaku Somvir (dilaporkan di Bawaslu Apeil 2019 dan sekarang baik korban Komang NS maupun para saksi menyebut nama DR Somvir sebagai pelaku dalam BAP di Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng) “dilindungi” alias tidak tersentuh dan tenang-tenang diatas penderitaan si miskin.

Baca Juga :  MEMBANDEL! MASIH BANYAK PENGENDARA BERHENTI DI ATAS JEMBATAN SHORTCUT

Bahkan teman korban diancam mau ditahan oknum penyidik. Made Sudiari, ibunda korban Komang NS, juga ketakutan dan terus menangis, melihat kondisi anaknya yang hidup dalam rasa cemas dan takut. “Kapan Somvir itu dipanggil? Jangankan ditangkap, dipanggil saja sampai saat sekarang belum.” Keluh Sudiari.

Coba dibayangkan, jika para oknum terkait yang berada dalam posisi si miskin Komang NS? Atau bila keluarga para oknum terkait yang mengalami nasib seperti si tertindas Komang NS? Bayangkan jika oknum terkait sebagai “si miskin, si bodoh dan tertindas?

Baca Juga :  HUKUM: PUKUL POLISI DI JAKARTA, WNA NIGERIA TERTANGKAP DI BULELENG

Tentu tidak mau!!!!!!! Terus kenapa oknum terkait tidak membela si miskin dan si bodoh Komang NS? Maukah si oknum terkait mengalami penindasan seperti yg dialami si miskin dan si bodoh?

Kalau tidak mau, ayo bangkit dari terkungkungan “ketidakbenaran” dan dengan lantang berteriak dan maju tak gentar membela si miskin, si tertindas Komang NS.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *