1
Jum. Sep 18th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

ORANG BALI HARUS BERANI BERSAING

3 min read

Oleh: Nyoman Sarjana, SE/ Executive Director PT Jarrak Bahtera Media (JBM.co.id)

PENINGKATAN jumlah peduduk Bali memang sudah dalam tahap mengkhawatirkan, apalagi kepadatan yang terjadi di daerah Selatan Bali sudah sangat sesak yaitu daerah Denpasar dan Badung saat ini melebihi rata–rata kepadatan penduduk nasional sekitar 3.000 perkilometer persegi.

Kondisi ini tidak lepas dari banyaknya masyarakat luar Bali yang mencoba peruntungan hidup di Bali. Laju perekonomian Bali dengan banyaknya jumlah investigasi, menyebabkan kebutuhan jumlah tenaga kerja yang cukup besar. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk pendatang untuk bekerja di Bali.

Tak bisa dipungkiri kehadiran penduduk pendatang ke Pulau Bali terus bertambah dari waktu ke waktu . Dengan berbagai latar belakang, mereka datang ke Pulau Bali dengan maksud mengadu nasib dan bisa memperoleh penghidupan yang lebih baik. Keadaan ini menimbulkan banyak fenomena budaya, aksi kriminalitas oleh oknum–oknum pendatang yang datang dengan tujuan yang tidak jelas.

Untuk meminimalisir hal tersebut, Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, aturan hukum yang sudah dibuat untuk mengatur tatanan kehidupan di masyarakat harus ditegakan dengan melibatkan komponen– komponen terkecil dalam pemerintahan yaitu pemerintahan tingkat desa.

Desa sebagai instansi yang terkoneksi langsung dengan masyarakat harus dapat menjaring penduduk pendatang yang tidak diketahui asal usulnya. Hal tersebut tidak hanya untuk menjamin keamanan Bali saja, tetapi juga bermaksud untuk menjaga keharmonisan masyarakat di tengah–tengah perbedaan yang ada.

Kemampuan masyarakat dalam menjaga kerukunan di tengah–tengah perbedaan yang ada itulah yang membuat Bali selalu aman dan damai, jarang mengalami gesekan horizontal, sehingga menjadi daerah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang berkunjung ke pulau yang di kenal dengan sebutan Pulau Dewata.

Baca Juga :  TMMD KE-107 DIBUKA, KOLABORASI PEMERINTAH-TNI PERCEPAT PEMBANGUNAN DESA

Ini termasuk para wisatawan baik lokal maupun manca negara . Disisi lain , Bali tidak seluas Pulau Jawa atau Sumatra dan Kalimantan. Kehadiran penduduk pendatang membuat kompetisi dalam mangais rejeki di pulau ini menjadi semakin berat, sehingga berpotensi kadang menjadi pemicu konflik di tengah–tengah kondisi harmonis yang telah terpelihara selama ini.

Kehadiran penduduk pendatang tidak serta merta dapat terus disalahkan. Negara kita adalah negara kesatuan yang terbuka, masyarakat lokallah yang harus mulai sadar. Kehadiran mereka alias pendudukn pendatang dapat dijadikan Sparing Partner membakar semangat untuk terus meningkatkan kualitas diri di tengah persaingan . Masyarakat harus lebih banyak bekerja , sedikit tidur dan jangan terus mengeluh dengan keadaan bila tidak mau tergilas di tanah sendiri.

Terpusatnya pembangunan infrastruktur dan suprastruktur di Bali Selatan, memang membuat penyebaran penduduk di Bali tidak merata. Hendaknya pemerintah menghentikan pemberian izin pembangunan investasi baru di Bali Selatan . Sebagai gantinya pembangunan investasi baru itu digiring ke wilayah lain seperti Bali Barat, Bali Utara dan Bali Timur untuk pemerataan perekonomian masyarakat untuk mengurangi angka urbanisasi dan mengurangi pemusatan jumalah penduduk.

Selain itu harus adanya relokasi industri untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Industri–industri padat di Bali Selatan itu harus dipindahkan ke tempat–tempat yang kering seperti Bangli , Karangasem, Buleleng dan Negara. Jadi sentra–sentra industri harus difokuskan ke daerah–daerah yang jarang dikunjungi wisatawan.

Baca Juga :  Siapa Bilang Bali Baik-Baik Saja?

Sebagi kawasan pariwisata terkemuka, Bali menjadi incaran penduduk pendatang. Akibatnya Bali akan menjadi padat dan persaingan makin berat. Masyarakat Bali sebagai penggerak dan juga pelaku sektor perekonomian harus memiliki daya tawar yang cukup tinggi untuk menangani pembangunan yang telah ada.

Pemerintah harus memiliki semacam spektrum yang luas untuk mengatasi keadaan ini. Untuk itu pemerintah harus meningkatkan daya saing orang Bali agar jangan sampai tergerus di tanah kelahiran sendiri. Pembangunan Bali harus diarahkan juga untuk meningkatkan produktivitas orang Bali.

Bali ke depan menghadapi tantangan yang luar biasa, baik secara nasional maupun internasional. Tidak dalam konteks ekonomi politik maupun sosial budayanya. Salah satu yang sangat mendesak dibenahi pemerintah adalah daya saing orang Bali yang masih sangat rendah. Pemimpin Bali harus mampu merancang format pembangunan Bali dengan trobosan baru , sehingga pembangunan bisa melahirkan daya saing bagi penduduk lokal. Pemimpin Bali perlu mengedepankan pembangunan yang mampu meningkatkan produktivitas, bukan pembangunan yang hanya meningkatkan konsumsi rakyat.

Pemimpin jangan mengajarkan rakyat jadi konsumtif, jangan sampai nanti Bali menjadi seperti Jakarta yang mana pembangunan Jakarta menggarus eksistensi orang betawi .

Pembangunan seperti itu tidak ada gunanya, karena daya saing orang Bali harus betul–betul dipikirkan serius karena kalau tidak pasti marginalisasi ini akan semakin cepat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *