Berita

Bolehkah Bunga Setelah Dipersembahkan Digunakan Sebagai Sarana Sembahyang?

DENPASAR, jarrakposbali.com | Perbedaan persepsi penggunaan Bunga pada canang yang telah dipersembahkan ke Pelinggih menjadi salah satu pertanyaan umat yang ditampung Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali.

Sebagian Umat Hindu berpendapat bahwa bunga yang telah dipersembahkan dalam bentuk canang tidak boleh dipakai sarana muspa,sementara di sisi lain ada Umat yang menentang hal tersebut.

Untuk menyamakan persepsi agar tidak terjadi selisih pendapat dikalangan Umat Hindu,jurnalis Jarrakposbali meminta Ketua PHDI Bali,I Nyoman Kenak untuk meluruskan hal tersebut.

Dalam keterangannya Nyoman Kenak menuturkan bahwa dalam sejumlah Tatwa, bunga merupakan simbol niat tulus ikhlas kepada Sang Pencipta.

“Dalam persembahyangan Umat Hindu di Bali, bunga menjadi salah satu bagian penting dalam upakara. Canang dalam Lontar Tegesin Sarwa Banten disebutkan bahwa bunga merupakan persembahan kepada Tuhan.

Sudah tertulis jelas dalam lontar Tegesin Sarwa Banten disebutkan bahwa bunga adalah sebuah persembahan. Sedangkan. Dalam Lontar Yadnya Prakerti, Canang merupakan perwujudan Tuhan itu sendiri,” ungkapnya saat diwawancarai di kantornya.

Baca Juga :  Jaga Kebugaran Personil, Polres Karangasem Gelar Olah Raga Bersama
  Jarrak Travel

Ketua PHDI Bali yang sangat gesit melayani Umat ini juga menjelaskan bahwa,merujuk hal itu, menurutnya tidak menjadi soal apakah bunga dalam canang yang setelah dipersembahkan dapat digunakan sebagai sarana sembahyang.

I Nyoman Kenak,Ketua PHDI Prov.Bali

“Sebab keduanya memiliki keterkaitan yang tak dapat dipisahkan.Dalam situasi tertentu misalnya bunga yang tersedia terbatas, dan yang ada hanya canang, bunga itu menurutnya dapat digunakan untuk sembahyang.

Bahkan menurutnya sesuatu persembahan yang disembahkan sangat disarankan untuk ditunas atau dimohon kembali,”tegasnya.

“Jangan sampai karena tidak ada bunga baru, akhirnya tidak sembahyang, itu juga tidak bijaksana. Dalam beberapa kesempatan, segala yang kita nikmati atau gunakan sebaiknya dipersembahkan terlebih dahulu,”imbuh Nyoman Kenak.

Baca Juga :  INFO PERBATASAN RI-TIMOR LESTE: SATGAS 744/SYB BANTU TANAM PIPA AIR UNTUK KEBUTUHAN PETANI

Untuk itu ia mengajak Umat sedharma untuk tidak mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu krusial.

“Memang kalau situasi yang memungkinkan ada baiknya menggunakan bunga yang baru sebagai sarana sembahyang,tapi kalau situasinya tidak memungkinkan,ya…tidak apa. Mari ciptakan kenyamanan untuk kita memuja Tuhan, harus bijak. Bagaimana ketika harus bersembahyang di tengah hutan? Dupa tidak ada. Apakah kita batalkan untuk sembahyang? Tentu itu tidak baik, maka gunakan yang ada,” pungkasnya mengakhiri perbincangan. (Bratayasa)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: